Monday, March 26, 2007

MODELING IPS 2

TUGAS PERORANGAN (10”)

  1. Bacalah wacana “ KISAH SUARSIH”
  2. Masing-masing peserta membuat 5 (lima) pertanyaan yang bermutu berdasarkan bacaan tersebut

TUGAS KELOMPOK 1 (15”)

  1. Pilihlah dan tuliskan 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan
  2. Bagaimana tanggapan kelompok Anda terhadap sikap Bu Tati terhadap Bu Suarsih
  3. Andai Anda menjadi Bu Suarsih apa rencana / langkah yang harus ditempuh.

TUGAS KELOMPOK 2

  1. Pilihlah 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan
  2. Dapatkah Bu Tati pemilik rumah baru, mengusir Bu Suarsih sebagai penyewa ?
  3. Upaya hukum apa yang dapat dilakukan Bu Suarsih?

TUGAS KELOMPOK 3

1. Pilihlah 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan

2. Bagaimana cara Bu Tati mengatasi permasalahan tersebut?

3. Andai Anda menjadi Bu Tati apa langkah yang terbaik yang harus ditempuh agar Bu Suarsih bersedia meninggalkan rumah sewanya?

Refleksi (10”)

Peserta menuliskan refleksi terhadap modeling

DIKUSI KELAS (20”)

  • Apa saja perbedaannya dengan pembelajaran yang biasa dialami peserta (cara tradisional/konvensional).

(Peran guru, sumber belajar, tugas siswa, suasana kelas, kegiatan siswa, keaktifan siswa dll.- Lembar Observasi)

  • Kompetensi Dasar apa saja yang dikembangkan dalam kegiatan modeling ?
  • Keterampilan IPS apa saja yang dikembangkan?
  • Keterampilan Informasi apa saja yang dikembangkan?

PEMAJANGAN HASIL KARYA KELOMPOK & KUNJUNG KARYA (10”)

Kritisi dan beri catatan di bawah hasil karya kelompok yang dikunjungi

RANGKUMAN & PENUTUP (15”)

Merangkai induksi hasil temuan dari masing-masing kelompok ( fakta -> konsep -> prinsip -> prosedur -> generalisasi -> teori )

Rencana Tindak Lanjut Pembelajaran (Tugas terstruktur atau Projek)

Menulis artikel:

Ø Kepedulian terhadap kehidupan orang kecil

Ø Kalau saya menjadi Pengusaha Kontrakan Rumah.

Melakukan penelitian sederhana:

Ø Pemberdayaan Masyarakat Miskin di Kota

Ø Analisis Kebijakan Pemerintah Daerah Terhadap Masyarakat Miskin di Kota

Ø Peran serta LSM, DUDI dalam memberdayakan Masyarakat Miskin

POKOK MATERI : PELESTARIAN LINGKUNGAN HIDUP

TUGAS PERORANGAN (10”)

  1. Bacalah wacana “ Mendulang Batu Bara, Menuai Bencana”
  2. Masing-masing peserta membuat 5 (lima) pertanyaan yang bermutu berdasarkan bacaan tersebut

TUGAS KELOMPOK 1 (15”)

  1. Pilihlah dan tuliskan 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan
  2. Buatlah surat yang ditujukan kepada Gubernur dan Menteri Lingkungan Hidup berdasarkan pertanyaan terpilih
  3. Buatlah poster mengenai isu kerusakan lingkungan

TUGAS KELOMPOK 2

  1. Pilihlah 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan
  2. Mengapa hal tersebut dapat terjadi ?
  3. Bandingkan keuntungan dan kerugian yang ditimbulkan (dalam tabel)

TUGAS KELOMPOK 3

1. Pilihlah 5 (lima) pertanyaan yang paling bagus/bermutu diseleksi dari hasil kerja perorangan

2. Bagaimana cara mengatasi permasalahan tersebut?

3. Buatlah press release (jawaban/sanggahan) untuk membantah tuduhan perusakan lingkungan.

Refleksi (10”)

Peserta menuliskan refleksi terhadap modeling

DIKUSI KELAS (20”)

  • Apa saja perbedaannya dengan pembelajaran yang biasa dialami peserta (cara tradisional/konvensional).

(Peran guru, sumber belajar, tugas siswa, suasana kelas, kegiatan siswa, keaktifan siswa dll.- Lembar Observasi)

  • Kompetensi Dasar apa saja yang dikembangkan dalam kegiatan modeling ?
  • Keterampilan IPS apa saja yang dikembangkan?
  • Keterampilan Informasi apa saja yang dikembangkan?

PEMAJANGAN HASIL KARYA KELOMPOK & KUNJUNG KARYA (10”)

Kritisi dan beri catatan di bawah hasil karya kelompok yang dikunjungi

RANGKUMAN & PENUTUP (15”)

Merangkai induksi hasil temuan dari masing-masing kelompok ( fakta -> konsep -> prinsip -> prosedur -> generalisasi -> teori )

Rencana Tindak Lanjut Pembelajaran (Tugas terstruktur atau Projek)

Menulis artikel:

Ø Kalau saya menjadi Menteri Lingkungan Hidup

Ø Kalau saya menjadi Pengusaha Pertambangan & Energi dll.

Melakukan penelitian sederhana:

Ø Pengembangan Teknologi Industri yang ramah lingkungan

Ø Analisis Dampak Industri ....... terhadap kelestarian lingkungan & sosial ekonomi msy

Ø Peran serta masyarakat dalam melestarikan lingkungan dll.

Thursday, March 22, 2007

EFEKTIFKAH PEMBELAJARAN TERINTEGRASI ?

Pengalaman menarik saat berinteraksi dengan guru teman anak saya di kelas 5 di salah satu SD swasta Surabaya yang tanggap dan kreatif mempertanyakan apakah boleh mengintegrasikan beberapa materi pokok dalam sebuah tema atau proyek? Saya jawab mengapa tidak, kalau itu Ibu anggap itu lebih efektif? Saya tanya lebih lanjut: pokok materi apa saja yang ingin Ibu integrasikan dan mengapa harus diintegrasikan? Belau menjawab, beberapa pokok materi yang saya anggap “kering dan membosankan”.
Apa misalnya, tanya saya. Itu lho Pa, materi tentang peta, kenampakan alam dan buatan, iklim, kalau disampaikan begitu saja siswa hanya menghafal letak negara di peta, perubahan iklim di berbagai negara, kekayaan flora dan fauna. Bagaimana kalau saya integrasikan dengan ekonomi, sosial budaya dan politik? Saya jawab mengapa tidak, asal tema/proyek itu terkait.
Lebih lanjut saya tanya, kira-kira apa temanya? Dia jawab, bagaimana kalau ”Paket Wisata”? bagus,,jawab saya. Caranya? Ya siswa diminta mencari brosur/informasi ke biro-biro perjalanan internasional. Mereka bisa belajar berbagai maskapai penerbangan domentik maupun internasional, harga tiketnya, bagaimana pelayanannya.
Selain itu, siswa akan belajar pula mata uang, sistem pemerintahan, sistem transportasi, kebudayaan, mengenal tempat-tempat wisata, tradisi masyarakat negara yang akan dikunjungi, sekaligus iklimnya, sejarahnya. Pokoknya semua hal yang berhubungan dengan rencana paket wisata.
Saya berpikir sejenak, apa tidak terlalu sulit siswa memperoleh informasi sebanyak itu? Saya rasa tidak, sekolah kami memiliki referensi yang cukup tentang berbagai negara di dunia. Hanya yang sulit kantor imigrasi tidak menyediakan brosur-brosur bagaimana caranya mengurus paspor, visa untuk kunjungan ke berbagai negara.
Mereka sudah kelas V, kami membiasakan siswa untuk mandiri dan mereka mengerti ke mana harus mencari dan menemukan informasi yang mereka butuhkan. Bisa melalui buku, majalah, surat kabar, video, brosur, pameran kebudayaan dan pariwisata di konsulat yang ada di Surabaya. Bahkan mereka sudah terbiasa menggunakan internet, ensiklopedia.
”Luar biasa”, kalau gagasan ibu bisa diwujudkan, kata saya.
Kira-kira butuh berapa lama ibu menyelesaikan tema/proyek itu, dan bagaimana cara pembelajarannya? tanya saya. Kalau pembelajaran dilakukan secara parsial seharusnya 16 jam, dengan model tematik/proyek kira-kira hanya 8 jam saja. Caranya menggunakan pendekatan kooperatif learning karena mereka sudah terbiasa belajar bekerjasama, orang tua siswa banyak membantu mencari informasi yang dibutuhkan oleh anaknya. Pengalaman saya selama ini membuktikan anak-anak belajar dengan penuh antusias, menikmati cara belajar seperti ini, cepat dan tingkat pemahaman mereka sangat tinggi.
Kalau demikian, ibu telah memberi ”kehidupan” yang menantang pada materi ajar yang dirasakan membosankan. Hanya patut diingat, jangan hanya memberi pembelajaran kulitnya, ajak mereka merumuskan gagasan untuk mengembangkan alternatif paket wisata mana yang paling efektif, efisien dan bisa menikmati obyek wisata dengan nyaman.
Iya pa, mereka sudah terbiasa mengekspresikan hasil wawancara, hasil pengamatan, bahkan menganalisis berbagai data penduduk untuk memahami tingkat pertumbuhannya, jenis kelaminnya, jenis pekerjaannya, PUS, jumlah tenaga produktif dll. Kalau begitu ibu Ciaamik ya..?
Kesan saya, ibu guru ini paham betul bahwa kalau mengajar muridnya dengan cara memecah materi menjadi elemen-elemen yang berdiri sendiri, justru menghambat dan membingungkan siswa. Ibu guru ini sudah terbiasa menghubungkan informasi yang satu dengan informasi lainnya, sehingga siswa bisa melihat makna dan relevansi dari pengetahuan yang dipelajarinya. Nampaknya ibu guru itu paham betul, bahwa kerja otak kitapun dalam menyerap informasi harus utuh, tidak terpisah-pisah.
Maka saran yang saya berikan, biasakan ibu membedah kurikulum antara mata pelajaran pada kelas tertentu dan hubungkan dengan hasil bedah kurikulum kelas di atasnya. Dengan demikian, ibu terbiasa melihat keseluruhan materi sebelum ibu belajarkan agar tidak tumpang tindih antara materi satu dengan lainnya.
Saya salut dengan kreativitasnya, dan ibu itu patut diacungi jempol tangan dan kaki, karena telah mampu membelajarkan pengetahuan sosial lebih menarik, cepat dengan menggunakan tema yang menghubungkan dunia abstrak dengan kehidupan nyata. Selamat berkreasi lainnya. (AR).
CARA YANG EFEKTIF
UNTUK MEMBERANTAS KORUPSI
Oleh : Arifin Rahman

Atmosfer korupsi yang masih kuat bercokol di semua urat nadi negeri ini membuat pemberantasan korupsi bak potret buram yang sulit diterawang. Yang diperlukan saat ini adalah membuat potret baru dengan wajah yang jelas dan garis-garis yang tegas.
Tindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) saat ini, yang mulai tidak pandang bulu dalam menangani kasus korupsi, membersitkan harapan yang hilang dari memori publik.
Gambaran buram tentang pemberantasan korupsi selama ini terungkap dari opini responden jajag pendapat Kompas, 13-14 April 2005. Dapat dikatakan, penalaran publik sudah sampai pada tahap frustrasi terhadap berlangsungnya korupsi di seluruh lapisan masyarakat Indonesia. Hampir ¾ responden (72%) menganggap saat ini tidak ada satu pun lembaga di Indonesia yang bebas dari tindak pidana korupsi. Jangankan membaik, korupsi justru dinilai kian parah. Seluruh kelembagaan aparat penyelenggara negara dari pusat hingga daerah terpencil tak lepas dari budaya korupsi.
Mulai dari korupsi kecil-kecilan seperti memberi uang ”pelicin” kepada aparat hingga melakukan mark up (penggelembungan) pada anggaran negara, mudah ditemukan dalam pemberitaan media maupun praktik sehari-hari. TII umumkan hasil
indeks korupsi, bahwa wajah peradilan masih sarat dengan praktik suap. Seratus persen (100%) praktik suap yang terjadi di peradilan, inisiatifnya justru datang dari pihak aparat penegak hukum. Pihak yang berperkara terpaksa memberikan uang suap akibat adanya permintaan dari pihak yang menangani perkara.
Penilaian paling negatif masih diarahkan publik pada tubuh birokrasi kelembagaan negara. Dari tingkat menteri hingga pejabat kelurahan belum lepas dari tudingan perilaku korup. Lembaga legislatif yang tidak lain merupakan wakil rakyat juga dipandang sebagai lembaga yang menghawatirkan perilakunya. Hampir seluruh responden (93%) menganggap lembaga ini tidak bebas dari sepak terjang oknum-oknum yang berperilaku korup. Sifat anggota legislatif yang relatif kebal hukum dan tidak transparan dianggap memperparah korupsi di tubuh lembaga lembaga itu. Opini publik seperti ini sebenarnya terbangun dari banyaknya kasus korupsi yang mencuat di DPRD berbagai daerah, yang memberikan gambaran betapa rentannya kekuasaan politik dipergunakan untuk korupsi.
Penilaian tak jauh berbeda dialamatkan terhadap birokrasi departemen-departemen pemerintah yang dianggap masih bermain-main dengan kultur lama yang cenderung korup. Permainan anggaran, prosedur berbelit-elit demi pungli dan tindakan korup lainnya masih dianggap belum hilang dari birokrasi departemen. Tak terkecuali lembaga pemerintah yang bergerak dalam keagamaan sebagai institusi yang memperjuangkan nilai-nilai moral pun hingga kini, oleh ¾ responden dianggap belum bebas dengan tindak pidana korupsi. Bahkan, tak ketinggalan pula lembaga-lembaga penegak hukum seperti lembaga kehakiman, kejaksaan, maupun kepolisian, masih sama saja keadaannya jika dikaitkan dengan perilaku korup.
Dalam jajak pendapat sebelumnya (6 Desember 2004), terekam opini 73% responden yang menilai kondisi korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN) saat ini bukannya berkurang, tetapi justru kian marak dan diberbagai lapisan. Dalam pandangan responden, akar nepotisme yang kuat dan kondisi ekonomi yang buruk dalam masyarakat Indonesia dituding turut pula berperan memelihara korupsi. Moralitas dan budaya manusia Indonesia yang santun kerap tak berjalan sebagai akibat kendala ekonomi. Pendeknya, tali-temali korupsi dengan orang Indonesia sampai-sampai membuat responden meyakini KKN tak mungkin hilang di bumi pertiwi ini.
Peradilan bersama kepolisian dan militer menempati posisi yang tertinggi sebagai instansi yang paling sering terjadi praktik suap. Hasil survey Transparency International Indonesia (TII) untuk menghasilkan indeks Persepsi Korupsi Indonesia tahun 2006. survey yang dilakukan terhadap 1.760 pelaku bisnis yang tersebar di 32 kota di Indonesia. Beberapa pengusaha mengaku selalu dimintai uang pelicin dalam berinteraksi dengan institusi publik. Beberapa diantaranya memberikan uang pelicin. Dari 20 instansi yang diamati, yang menempati peringkat tertinggi terjadi prakktik suap adalah peradilan, polisi dan tentara.
Responden mempersepsikan ketiga instansi itu sarat dengan praktik suap. Sebanyak 51% mempersepsikan peradilan sarat dengan suap, sebanyak 55 % responden mempersepsikan polisi sarat dengan suap, dan 53% mempersepsikan instansi militer sarat dengan suap. Namun inisiatif suap di kepolisian & militer berasal dari kedua belah pihak, yakni aparat dan pengusaha.
Langkah terbaru pemberantasan korupsi yang dilancarkan KPK dengan menangkap Mulyana W Kusumah atas dugaan menyuap petugas BPK menjadi momentum baru dalam pemberantasan korupsi. Peristiwa yang menyentak perhatian publik itu benar-benar mengagetkan. Betapa tidak, Mulyana yang merupakan pejabat negara anggota KPU, yang dikenal sebagai sosok yang dinilai telah banyak berjasa dalam dunia pembelaan hukum, ternyata ditangkap kerena dugaan korupsi. Mulyana sendiri menganggap peristiwa yang menimpa dirinya adalah sebagai pemerasan yang berakhir dengan jebakan.
Jelas tindakan KPK itu bagaikan pedang bermata dua, menyakitkan sekaligus memberikan harapan. Pada satu sisi, dengan pedangnya, KPK telah menguak semakin dalam tabir korupsi di negeri ini. Pendekar hukum yang pernah mengetuai LBH justru mendekam di tahanan. Publik kian beroleh pembenaran bahwa korupsi benar-benar masuk ke dalam berbagai lini struktur negeri ini, termasuk para pembela panji-panji i moral yang dipercaya.
Namun di sisi lain, langkah KPK itu sekaligus membawa berkah bagi KPK. Apresiasi terhadap lembaga ini naik. Publik mulai melihat titik cerah dalam pemberantasan korupsi. Berbeda dengan penanganan berbagai peristiwa korupsi yang kerap tidak digubris masyarakat karena dipandang tak sungguh-sungguh, kali ini upaya KPK beroleh penghargaan dari 36% responden yang menilainya sebagai upaya sungguh-sungguh yang terpuji.
Gerak KPK yang tidak banyak diendus media massa kini bagaikan magnet. Lebih jauh, publik pun mengharapkan gebrakan-gebrakan baru KPK dalam meringkus para pejabat korup yang selama ini paling banter hanya bisa mereka kutuk dalam hati
Namun, kondisi penegakan hukum Indonesia yang kerap kali ”manis di bibir” tak pelak membuat 40% responden lainnya menganggap KPK masih sekadar memberikan lips service untuk menyenangkan publik. Separuh lebih responden bahkan khawatir bahwa penangkapan itu tidak akan berujung dengan tuntas dan memuaskan. Dalam ingatan publik, kasus-kasus besar yang melibatkan pejabat negara senantiasa tidak mudah diselesaikan. Andaipun diproses, kambing hitam akan dimunculkan agar aktor-aktor dan otak intelektual pelaku korupsi bisa terus bersembunyi dari jerat hukum.
Di lain pihak, tingkat kesulitan dalam mengungkap korupsi dipastikan meningkat setelah kasus ini. Pejabat dan tokoh-tokoh yang memiliki rekam jejak buruk dengan sendirinya akan berusaha menyembunyikan hasil perbuatannya. Prestasi KPK memproses Abdulah Puteh dan Mulyana boleh jadi menyenangkan untuk diikuti, tetapi masih banyak konglomerat yang ditengarai membangkrutkan negara tidak juga diringkus. Puteh bahkan telah divonis 10 tahun penjara, walau sekarang menjadi tahanan kota alias belum menjalani hukuman di penjara.
Masih mandeknya pemberantasan korupsi dan pembenahan keorganisasian di tubuh berbagai instansi pemerintah tampaknya akan menambah berat beban pemberantasan korupsi yang mulai dijalankan KPK. Meskipun ujung tombak pemberantasan korupsi juga meliputi banyak lembaga, seperti polisi, jaksa, hakim, atau BPK, lembaga-lembaga itu ditengarai juga tidak bersih dari korupsi. Tidak mengherankan jika kemudian responden pun tidak yakin aparat lain akan mampu memberikan dukungan memadai terhadap upaya pemberantasan korupsi oleh KPK.
Bercermin dari kondisi tersebut, substansi dari Instruksi Presiden No. 5 Tahun 2004 tentang Percepatan Pemberantasan Korupsi tampaknya masih terhenti di dokumen-dokumen kenegaraan. Meskipun minggu ini Presiden berencana mengeluarkan Instruksi lanjutan untuk menajamkan sektor-sektor pemberantasan dan pencegahan korupsi, tetapi luasnya bidang yang harus dibersihkan tampaknya akan menjadi sebuah kerja yang tak mudah.








Tugas:
Baca dengan seksama, pikirkan apa yang menyebabkan terjadinya korupsi, bagaimana mencegahnya, apa akibatnya bila korupsi tidak bisa diberantas, serta adakah cara-cara yang paling efektif dalam memberantas korupsi.
Kerjakan secara individual (10 nemit), kemudian berpasangan (15 menit), dilanjutkan dalam kelompok 5 – 6 orang selama (30 menit).
Presentasikan oleh salah satu kelompok ditanggapi oleh kelompok lain secara bergantian menampilkan:
Faktor-faktor penyebab terjadinya korupsi
Tata cara mencegah agar tidak terjadinya korupsi
Akibat-akibat yang ditimbulkan dari maraknya tindak pidana korupsi
Cara-cara efektif dalam memberantas korupsi.

Sebagian pakar politik menilai, ada 3 hal yang menyebabkan korupsii merajalela di kalangan birokrat;
1) Dari segi hukum, sebuah teori menyatakan, seseorang berani melakukan tindak kejahatan, karena resiko akibat tindakannya jauh lebih kecil darii hasil yang diperolehnya.
Dalam konteks korupsi seseorang berani melakukan korupsi karena resiko hukumannya tidak lebih merugikan dibanding ketika ia memperoleh uang dari hasil korupsinya. Fakta menunjukkan, hukum pidana kurungan bagi pencuri ayam yang bisa mencapai 3 bulan. Sedang koruptor yang mencuri uang rakyat sampai bermilyar-milyar hanya divonis kurungan cuma beberapa bulan atau tahun plus dipotong masa tahanan.
2) Pribadi-pribadi birokrasi. Seorang birokrat yang telah terdidik secara intelek, memang tidak ada jaminan terdidik secara iman & takwa (imtak). Karena sistem pendidikan sekarang cenderung mengedepankan sisi intelek dibanding imtak.
3) Sistem yang melingkupi negara. Kebobokrokan yang terjadi di Indonesia saat ini, salah satunya korupsi, adalah sebuah kerusakan sistemik. Seperti bus dan sopir serta penumpangnya. Agar bisa sampai ke tujuan dengan selamat, diperlukan seorang sopir yang baik dan mobil yang kondisinya baik pula. Sistemnya adalah bus, pengendara adalah elit politik dan penumpangnya adalah rakyat. Ketika bus yang digunakan rusak, justru sangat berbahaya bagi keselamatan pengendara dan penumpang.
MODEL PEMBELAJARAN PAKEM /PROBLEM SOLVING
Mata Pelajaran : PS&Kn
Tema : “B A N J I R”

Pendahuluan
Model pembelajaran berikut dapat digunakan untuk bahan pelatihan guru/kepala sekolah di tingkat kabupaten atau gugus, dan dapat pula diuji-cobakan sebagai bahan pembelajaran di SD maupun SMP, dengan tingkat kesukaran yang disesuaikan dengan kemampuan siswa.

Tujuan pengembangan model ini adalah untuk :

Memberikan pengalaman langsung (penghayatan) kepada guru/kepala sekolah bagaimana rasanya belajar aktif
Mengembangkan ”keterampilan informasi”
Menjadi salah satu contoh bagaimana mengembangkan suatu topik kurikulum menjadi pembelajaran yang menarik, menantang dan meningkatkan kemampuan berpikir siswa.

Catatan

Model pengembangan topik berikut penekanan utamanya adalah pada pengembangan kemampuan kritis siswa (SD/SMP, tergantung kedalaman/tingkat kesukaran), kemampuan bekerja sama,keterampilan informasi( kemampuan mencari dan memanfaatkan informasi), mengorganisir gagasan secara sistematis dan menyatakan pendapat secara akurat, lengkap, jelas dan menarik.

Agar siswa aktif/peserta pelatihan aktif dapat dilaksanakan dengan intensitas tinggi, maka sebaiknya pada waktu pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, peran guru/ tutor/fasilitator pelatihan jangan terlalu dominan.

Guru/fasilitator pelatihan jangan terlalu banyak memberikan informasi/tuntunan kepada siswa/peserta pelatihan.

Kalau siswa SD/SMP tidak dapat mengemukakan pendapat mereka sendiri, ajukanlah pertanyaan pertanyaan penuntun seperti:

· Menurut pendapatmu, apa saja penyebab banjir..?
· Apakah masih ada lagi penyebab lain?
· Bagaimana mengenai pengaruh cuaca? (hujan lebat terus menerus!)
· Apakah ulah manusia juga dapat menjadi penyebab banjir? Sebutkan dan uraikan contoh contohnya

Kadar keaktifan siswa akan semakin tinggi kalau para siswa dapat mengajukan pertanyaan pertanyaan yang bermutu mengenai topik banjir. Tugas siswa untuk membuat daftar pertanyaan, dapat dilakukan pada waktu diskusi kelas, diskusi kelompok, secara berpasangan atau secara individual.Pertanyaan pertanyaan yang diajukan dapat dijawab siswa sendiri atau oleh siswa lain/kelompok lain

Untuk kepentingan praktis model ini disajikan langsung berupa pengembangan skenario pembelajaran, tanpa pernik pernik seperti: Kelas, Semester, Tujuan, Indikator, Bahan dsb, yang dapat dikembangkan sendiri oleh guru

Skenario Pembelajaran
(Untuk 2-3 x pertemuan)

A. Diskusi kelas mengenai banjir
B. Pembagian
Tugas kelompok (3 Kelompok/
lebih)
C. Mencari
Informasi +
Diskusi kelompok
D.Mendiskusi-kan hasil temuan dan
persiapan
presentasi
E. Presentasi di
depan seluruh kelas + diskusi kelas
F. Pameran hasil karya
setiap kelompok
A. Diskusi kelas

Penting

Untuk peningkatan mutu pembelajaran PS&Kn, guru harus menuntut kemampuan setiap siswa setingi tinginya dalam menyampaikan pendapat secara lisan/tertulis, kalau guru puas dengan jawaban 1 kata atau 1 kalimat pendek, maka sampai kapan pun dan kelas berapa pun, jawaban pendek itulah yang akan diberikan siswa, dan kibatnya tidak akan ada peningkatan kemampuan. Dalam diskusi kelas, setiap siswa perlu dituntut untuk menyampaikan pendapat secara rinci, jelas dan lengkap.

1. Pendahuluan (Klasikal, waktu 10 -20 menit)

Kelas mendiskusikan masalah banjir
Kapan terjadi, di mana saja terjadi
Siapa pernah mengalami sendiri/melihat
Apa saja yang terjadi saat banjir
Bagaimana perilaku & perasaan penderita
Berapa lama
Bagaimana perilaku orang lain
Apa saja kerugian yang dialami (fisik, non fisik)
Mengapa tidak pindah dst

2. Tugas menulis/menceritakan secara lisan (Kelompok +individual, 30 menit)

Siswa mendiskusikan dulu secara lisan kata kata kunci berkaitan dengan banjir:
Perasaaan ( cemas, takut, panik, sedih, ingat kampung halaman, ingat orang yang dicintai, harap-harap cemas, putus asa, kasihan anak anak/orang tua/sakit, dst)

Kondisi (becek, penuh lumpur/kotoran, lembab, bau, lengket, rusak, basah semua, dokumen hilang/rusak, gelap, tak ada listrik, tidak bisa masak, anak anak menangis)
Anak anak ( merengek, menangis, kelaparan, kedinginan, masuk angin, sakit perut, muntah berak, mengajak pindah, tidak punya baju, tak bisa sekolah dst)
Barang barang (terendam, terguling, rusak, pecah, hilang, kotor, basah kuyup, dst

Setelah diskusi kata-kata kunci setiap anak harus dapat menyampaikan pendapat, pengalaman, perasaan dirinya sendiri atau orang lain/korban banjir secara lisan paling sedikit selama satu menit /anak, atau menuliskan laporan mengenai banjir paling sedikit 1 atau 2 halaman

B. Pembagian tugas (Klasikal-Kelompok, 10 menit)

Kelas dibagi dalam kelompok a 4 atau 5 orang per kelompok.
Setiap kelompok mempunyai tugas berlainan, boleh pilih salah satu:

Penyebab banjir
Akibat banjir
Pencegahan banjir

Setiap kelompok harus membagi tugas kepada setiap anggota kelompok, bagaimana mencari informasi, di mana saja mencari informasi, sumber informasi, informasi apa yang diperlukan (gambar, berita, artikel, peta,dsb), bagaimana menggunakan informasi, bentuk laporan, siapa pelapor, siapa menggambar, menulis dsb

Tugas mencari informasi dilakukan selama 1, 2 atau 3 hari

Setiap hari harus ada laporan dan diskusi kelompok mengenai kemajuan mencari informasi,(dilakukan di luar jam pelajaran)

Kelompok yang hasil karyanya terbaik akan mendapat penghargaan

C + D Mencari informasi & diskusi

1. Penyebab banjir:
· Alam (cuaca, topografi, daya dukung tanah, hutan, sungai, DAS, dsb)
· Manusia (perilaku, tindakan, kebodohan, kebutuhan, keserakahan, ketidak pedulian, tak ada rasa tanggung jawab, perusakan lingkungan, kegagalan reboisasi , dsb)
· Perundang-undangan, perda, hukum, pelanggaran, penegakan hukum, sanksi, mental pejabat/ petugas/ pengusaha, KKN, )
· Sosial, ekonomi, budaya ( kepadatan penduduk, kemiskinan, urbanisasi tak terkendali, salah penggunaan lahan, perumahan kumuh di pinggir sungai, kebutuhan industri kayu, pengelolaan HPH yang tak bertanggung jawab, pembakaran hutan, ladang berpindah, perambah hutan, pencurian kayu, ekspor illegal)

Siswa Aktif:

· Siswa mencari informasi dari berbagai sumber mengenai banjir
· Siswa melakukan diskusi/brainstorming menemukan bermacam penyebab banjir.
· Siswa mengajukan pertanyaan mengenai penyebab banjir
· Hasil diskusi/pemikiran bukan berupa daftar kata kata saja seperti:
- hujan
- hutan gundul
- sampah
tetapi harus diuraikan secara rinci misalnya:
Curah hujan tinggi selama beberapa hari di daerah pegunungan atau hulu sungai, ditambah pengrusakan hutan di DAS dapat menyebabkan tanah longsor dan mendatangkan banjir lumpur/batu-batuan yang sangat mendadak dan menimbulkan kerusakan hebat, memporak perandakan seluruh pemukiman, memakan banyak korban harta dan nyawa, menyebabkan penderitaan dan kesedihan seperti yang baru saja terjadi di daerah Bohorok, Sumatera Utara. (disertai gambar, kutipan berita dari surat kabar dsb)

2. Akibat banjir

· Alam ( kerusakan lingkungan , erosi berat, kesuburan hilang, berubahnya aliran sungai, tanah longsor)
· Pemukiman (tergenang air, rusak, kotor, tidak sehat)
· Penduduk (mengungsi, menderita, semakin miskin, sakit perut, tenggelam,hanyut, tidak bisa bekerja/sekolah)
· Pertanian (sawah, ladang, panen gagal, piaraan mati, hanyut)
· Sarana prasarana (jalan, jembatan rusak, transport, komunikasi dll)
· Ekonomi (kerugian, terganggu, tersendat, pasokan bahan sulit)
· Gangguan keamanan (pencoleng, pencuri)
· Penderitaan (terulang tiap tahun, berkepanjangan,)
· Pendidikan (tidak masuk sekolah, buku buku rusak)

Siswa Aktif:

Seperti pada kelompok 1, kelompok 2 juga dituntut untuk:

· Mengajukan pertanyaan-pertanyaan mengenai akibat banjir
· Mencari informasi sebanyak banyaknya, menyaring informasi, dan memanfatkan informasi dengan baik. Sumber informasi dapat berupa surat kabar, majalah, berita radio/TV, nara sumber, pengalaman siswa sendiri dsb
· Menentukan pembagian tugas anggota kelompok,
· Menyusun laporan bahan presentasi secara lisan/tulisan dalam bentuk uraian yang logis, sistematis dan menarik

3. Pencegahan banjir

· Pendidikan
- Secara nasional
- Lokal
- Formal
- Informal
(Pengetahuan / kesadaran: rasa memiliki, tanggung jawab:
lingkungan hidup, perusakan lingkungan & akibatnya, pentingnya pelestarian, terbatasnya daya dukung alam, perkembangan penduduk, pentingya KB)
· Undang-undang (pengetahuan tentang hutan lindung, PERDA sanksi dsb)
· Penegakan hukum (secara nasional, lokal, semuainstansi/ aparat/oknum)
· Kesadaran hukum (masyarakat, di kota, di desa, )
· Sanksi (benar benar dilaksanakan, diperberat)
· Korupsi/penyuapan (baik besar-besaran,kecil kecilan diberantas)
· Disiplin ( pentingya penanaman disiplin sejak usia dini, terus menerus, keteladanan, di sekolah, di masyarakat)
· Perbaikan ekonomi (terutama di pedesaan, dekat hutan)
· Mengubah pola kehidupan (kebutuhan bahan bakar, cara bertani)
· Reboisasi
· Perbaikan DAS
· Penggusuran/pemindahan penduduk
· Pemberantasan KKN

Catatan:
Tugas ke tiga ini relatif lebih sulit dibanding dengan kelompok 1 atau 2 , oleh karena itu guru/fasilitator perlu memberikan perhatian lebih banyak pada kelompok yang memilih tugas ini, atau memberikan tugas ini kepada kelompok yang lebih baik disbanding kelompok lain.

Siswa Aktif:

Seperti kelompok 1 dan 2, kelompok 3 bertugas:

· Mendiskusikan apa saja yang perlu dilakukan untuk mencegah banjir
· Mengajukan daftar pertanyaan
· Mencoba mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan
· Mencari berbagai sumber informasi
· Menyiapkan laporan/ hasil kerja kelompok berupa:
- laporan lisan/tertulis
- slogan
- spanduk/poster
- kampanye di luar sekolah dsb



E. Presentasi Hasil Kelompok

Presentasi hasil diskusi kelompok sebaiknya dilakukan oleh anggota kelompok secara bergantian agar semua siswa aktif dan semua terlatih menjadi pelapor hasil diskusi/kerja kelompok, misalnya setiap siswa menjelaskan salah satu isu yang didiskusikan oleh kelompok.

Presentasi dapat dilakukan di depan seluruh kelas atau di depan audience yang lebih banyak misalnya seluruh siswa di sekolah, atau di depan siswa dan orang tua siswa. Sebaiknya presentasi dibatasi waktunya, misalnya setiap siswa selama 2 atau3 menit.

Presenter harus siap menghadapi pertanyaan pertanyaan dari audiens/siswa lain. Kalau perlu anggota kelompok dapat menambahkan penjelasan.

F. Pameran hasil karya kelompok

Hasil karya kelompok dapat dipajangkan di kelas, di ruang guru/kepala sekolah, di luar kelas atau di halaman sekolah, terutama yang berupa spanduk atau poster
Pajangan dan Karya Siswa
Oleh: Arifin Rahman

Pajangan yang baik akan meningkatkan motivasi siswa yang hasil karyanya dipajangkan. Selain itu pajangan yang baik akan menimbulkan inspirasi bagi siswa lain untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Pada tahap awal PAKEM, pajangan sering masih berupa hasil kerja siswa pada waktu mengerjakan Lembar Kerja. Sebagai akibatnya tulisan semua siswa hampir sama kalimat-kalimatnya. Banyak hasil pajangan berupa sobekan dari buku tulis siswa. Kalau semua pajangan isinya sama, fungsi dan tujuan pemajangan seperti tersebut di atas tidak tercapai .

Pajangan yang baik merupakan hasil karya siswa yang murni, seperti laporan hasil kunjungan (misalnya ke pabrik kecap, ke KUD), laporan hasil penelitian atau percobaan siswa. Pajangan dapat berupa model, peralatan yang digunakan untuk percobaan, laporan proses dan hasil percobaan.

Pajangan dapat berupa hasil karya siswa secara perorangan misalnya puisi, cerita pendek, atau resensi buku, dapat pula berupa hasil karya kelompok: berupa laporan, proses pembuatan genteng, gambar gambar, contoh bahan yang digunakan, denah lokasi, data statistik hasil penjualan dsb.

Pajangan sebaiknya diganti kalau sudah tidak menarik lagi bagi siswa.

Bagaimana pajangan di kelas Anda?
MENGGUNAKAN BUKU PELAJARAN DENGAN CARA LEBIH BAIK

Buku buku pelajaran yang dipakai di sekolah banyak yang mempunyai pola sederhana yang sama dan berulang ulang. Pola tersebut biasanya adalah:

Informasi/bacaan
Pertanyaan mengenai bacaan sering berupa pertanyaan faktual/ingatan
Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut biasanya sudah tercantum dalam bacaan dengan urutan yang jelas (pertanyaan pertama pada bagian atas, pertanyaan 2 dibawahnya dst)
Tugas tugas/latihan sesuai dengan contoh yang diberikan

Sebagai akibatnya kegiatan belajar mengajar dengan menggunakan buku menjadi kegiatan rutinitas yang monoton dan membosankan siswa.

Untuk mengatasi masalah tersebut beberapa ide berikut bisa dicoba:
(Umum)
Siswa membaca informasi/bacaan, kemudian:
Siswa membuat pertanyaan di luar pertanyaan yang sudah ada, atau
Ajukan pertanyaan yang lebih menantang (Taxonomi Bloom)
(pertanyaan applikasi, sintesa, evaluasi)
- pertanyaan ”between the lines” (yang tersirat)
- pertanyaan yang berkaitan dengan pengalaman siswa (kontekstual)
- pertanyaan yang berkaitan dengan peristiwa nyata/lingkungan sekitar (kontekstual)
- pertanyaan “beyond the text”/”beyond the picture” (imaginative)
- pertanyaan mengenai perasaan orang orang yang terlibat
- pertanyaan mengenai apa yang terjadi kemudian

siswa membandingkan dengan informasi dari sumber lain (nara sumber, media)
siswa mebandingkan informasi dengan kejadian sehari-hari/lingkungan sekitar
bacaan diputus di tengah, siswa melanjutkan sendiri cerita

Beri contoh contoh:
(untuk masing masing mata pelajaran)